Tampilkan postingan dengan label Humanoids. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humanoids. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 September 2009

HYPOCRITE ALERT






Halo halo hai!

Di bawah ini berisi tulisan-tulisan saya beberapa waktu ini yg gw tulis saat-saat gw masih krisis agama, krisis identitas, krisis kepercayaan diri, krisis moneter, dan kawan-kawan.

Sekarang pun krisis-krisisnya masih banget berjalan, tp yang pasti semua keadaan mengarah ke perbaikan diri menjadi gw yang lebih:

~sexy and yummy~

Ditunggu yah!

Jadi, mohon maaf lahir dan batin, karena tulisan-tulisan di bawah ini isinya kemunafikaaaan
semua. Gak papa, gw nyadar sendiri kok hyahahahaaa (ada temen cina yang bantuin nyadar sih). Gw sempet jijik dan lamaaaaa banget ga update blog ini. Beberapa temen sampe pada nanyain kenapa ga update-update. Kenapa? Karena saya lagi fase jijik sama diri sendiri!! Malah sempet mau ngapus blog ini, tapi akhirnya gw berpikir, jangan deh. Mending blog ini jadi penanda perkembangan gw sebagai manusia yang derajatnya akan terus meninggi seiring dengan waktu aja. Dari derajat hipokrit rendah serendah sampah, sampai derajat kesucian murni tingkat tinggi bagai perawan yang tidak pernah melakukannya sendiri.

Yo wess, saya mau reformasi diri dulu. Mudah-mudahan ke depannya bakal lebih jujur lagi. Apa adanya, tanpa berusaha memenuhi ekspektasi siapa-siapa, bahkan diri sendiri. Dan syukur-syukur kalo MENGHIBUR.



Mari...

Titis

Selasa, 30 Juni 2009

Orang yang Berprinsip adalah Orang yang Perutnya Kenyang

Hari ini saya menemukan pelajaran hidup yang sebenarnya cukup common sense sih untuk orang lain, tapi untuk saya pelajaran ini lumayan memukul gong di perut.



Jadi kakak saya yang di Singapur akan kedatangan bayi yang Insya Allah akan lahir. Nah di keluarga sedang ada issue tentang kewarganegaraan jabang bayi ini, apakah tetap menjadi orang Indonesia atau jadi orang sana.



Sedikit ulasan tentang kakak dan istrinya. Mereka berdua adalah smarty pants yang dari SMP sampai kuliah dibayarin pemerintah Singapur, dan akhirnya mereka jadi terikat ikatan dinas dan harus bekerja untuk perusahaan apapun, yang penting perusahaaan Singapur. Mereka yang dulu dibangga2kan karena berhasil sekolah di sekolah yang "lebih baik" dari sekolah ortunya (dan gratis pula) kini menjadi tki dan tkw asal Jakarta dan Malang. Ya, saat memutuskan menerima beasiswa, gambaran penjajahan bangsa tidak terlihat saat itu. Yang ada hanya syukur Alhamdulillah, ibu gak perlu capek-capek nambah volume cucian demi bayar uang sekolah anak pertamanya.



Tentu dengan gelitikan nasionalisme, semua orang di keluarga menginginkan anak ini tetap jadi orang Indonesia. Namun bila ditimbang2, benefit kalo anak ini jadi Singaporean lebih gede karena dia akan menerima tunjangan dan fasilitas2 yang oke dari pemerintah sana. Jauh lebih besar ketimbang santunan pemerintah Depok yang cuma 2 juta rupiah per warganya. Itupun santunan orang meninggal.



Inilah yang mencubit hati saya. Saya berpikir, kenapa seseorang bisa tega mengorbankan negaranya. Apalagi kalo negaranya sangat membutuhkan dukungan seperti Indonesia. Hmhmm. Yah, ternyata karena kami miskin. Kere cuy.

Karena kami tidak kaya raya mblegedu, tiap ada kesempatan perbaikan hidup, tentunya akan disambar, kapanpun dimanapun apapun bagamanapun. Tentu saja mereka bisa memilih pilihan yang lebih nasionalis, tapi agak males juga yah kalo harus kecempet-cempet kereta ekonomi Jakarta-Bogor, padahal ada tawaran naik MRT yang sejuk.

Jadi kesimpulan saya:
Kalau orang berprinsip itu pasti karena mereka mampu untuk berprinsip. Kehidupan mereka sudah cukup mencukupi, sehingga mereka punya waktu senggang untuk memikirkan prinsip-prinsip hidupnya. Lain sama tukang pepaya yang waktunya tersita untuk muter-muter keliling komplek. "Payaa payaaaa pisaaaang jambuuuu...."




Duh, mudah-mudahan pesan yang gw maksud nyampe ke kamu yang membaca. Semoga semoga.

Minggu, 28 Juni 2009

Pergulatan Dua Manusia dalam Satu Tubuh

Oke, pernahkah anda dimarahi orang tua, intensitas amarahnya tinggi, mungkin gebrak2 meja dikit, nampar2 dikit, terus anda balas berteriak2 membela diri, tapi sambil marah2 itu sebenernya anda fine2 saja? Hmm saya sering seperti ini. Saat bertengkar dengan orang tua, ada seseorang dalam diri saya yang bisa bersenandung lagu2 pop pasar di dalam hati seakan2 saya lagi potong kuku saja. Padahal ada perang kalor di luar tubuh saya, tapi saya yang di dalam tetap merasa seperti berada di kelas Writing 1 yang adem.

Atau saat anda sedang bersenang2 ekstatik orgasmik bersama teman atau kekasih terkasih, lalu tiba2 diri anda mengatakan, wahh hari ini seru juga yahh?

Nah, si pihak dalam diri yang tetap adem ayem saat anda sedang berada di kutub2 emosi, sebenarnya adalah diri anda yang sesungguhnya. Ilmu barat menyebutnya, inner self, higher self, atau saya senang menyebutnya "saya yang sebenarnya".

Jadi orang tersebut adalah ya, diri anda sendiri, bukan malaikat bukan juga setan. Tapi ia adalah diri anda yang SESUNGGUHNYA. "Sesungguhnya" maksud saya adalah orang yang sesuai default factory setting Sang Pencipta. Diri anda yang sempurna sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk tersempurna. Diri anda yang selalu tenang, bahagia, bijak, cerdas, dan sifat-sifat baik lainnya. Hanya saja seiring waktu dan perkembangan otak, diri anda yang satu lagi (pikiran) mengambil alih tubuh dan mengambil alih sistem pemilihan respon-respon diri terhadap rangsangan luar. Pikiran yang seringkali negatif, mengubah diri sehingga akhirnya anda menjadi anda saat ini. Yaitu manusia yang serba berkekurangan dalam kepribadian. Baik terlalu penakut, terlalu merasa dirinya tinggi, terlalu baik, atau terlalu cuek. Semua sifat yang memiliki embel-embel "terlalu" pada manusia adalah buah dari pikiran kita yang mengizinkan kenegatifan masuk.

Contoh:
Saya Titis Pratiwi. Secara default factory setting sang Pencipta, saya diciptakan sebagai orang yang kecantikannya sempurna. Namun seiring perkembangan, saya dengan pikiran saya mulai menyentuh yang namanya majalah, tivi, pergaulan, dan segala bentuk komunikasi lainnya. Sehingga saya melihat orang lain (yang tentunya tingkat kesempurnaan kecantikannya sama dengan saya), dan merasa ada satu atau lebih bagian dari saya yang bentuknya tidak sekeren bagian orang itu. Namun, karena orang yang saya lihat ada banyak, dan tiap orang memiliki satu atau lebih bagian yang lebih sempurna dari saya, akhirnya pikiran saya menganggap bahwa tiap bagian dari saya pasti kalah dengan bagian-bagian lain dari orang lain. Padahal, sesuai dengan kodrat sang Pencipta, kecantikan saya sempurna. Pikiran saya mulai menerima bahwa saya kurang cantik. Dan seiring perkembangan, pikiran saya mengambil alih tubuh saya. Akhirnya dari ujung rambut ke ujung kaki sampai ke ginjal, semua mempercayai bahwa saya tidak secantik orang-orang itu. Dan akhirnya, jadilah kenyataan saya tidak secantik mereka. Karena seluruh tubuh saya sekarang bergerak dan bertingkah laku sesuai pola pikir bahwa saya tidak secantik mereka.

Tapi tetap, "diri saya yang sebenarnya" mengatakan bahwa kecantikan saya sempurna. Sehingga kadang saat saya bertemu pandang dengan diri saya di cermin atau jendela mobil orang, "diri saya yang sebenarnya" tiba-tiba berkata "ah ngga ah, gw ga jelek2 amat." Namun, secara pikiran sudah menjadi rajanya tubuh saya, saat bersanding dengan teman saya yang model, cepat2 perkataan tadi saya ralat.

Itulah pergulatan "diri yang sebenarnya" dengan pikiran. Saya percaya bahwa sang Pencipta itu cukup baik kepada saya, sehingga ia memberikan pengarahan kepada saya melalui "diri yang sebenarnya" itu. Jadi, bila kita sedang negatif, cobalah berlatih diri untuk menyadari keberadaan "diri yang sebenarnya". Dengarkanlah kata-katanya. Biasanya ia suka bergurau-gurau sedikit, tapi semua yang ia ucapkan adalah kenyataan. Dan ia selalu baik, walau kadang perkataannya mungkin menyakitkan. Anggap keberadaannya adalah hadiah dari sang Pencipta yang selalu mencintai kita dan selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. Dewasa ini, dunia terlalu dipenuhi dengan pikiran. Pikiran-pikiran yang selalu bilang bahwa kita kurang ini dan kurang itu. Pikiran dapat menghancurkan diri sendiri, kalau pikiran itu negatif.



Enjoy!

Kamis, 25 Juni 2009



YOU SON OF A MASOCHIST!!








Yes, believe it or not, you are!! Why do I say so? Because being a masochist is a basic humanly human characteristic. So, if you're parents are real humans, they surely have traces of this pityful trait. And since they're seeds met and combined and then spawned into you, you actually inherited it too. That makes you a masochist by nature.

For those who don't now what a masochist is:::

mas·och·ism (ms-kzm)
n.
1. The deriving of sexual gratification, or the tendency to derive sexual gratification, from being physically or emotionally abused.
2. The deriving of pleasure, or the tendency to derive pleasure, from being humiliated or mistreated, either by another or by oneself.
3. A willingness or tendency to subject oneself to unpleasant or trying experiences.

masoch·ist n.
masoch·istic adj.
masoch·isti·cal·ly adv.




As seen on the above definitions which I'm quite sure you didn't read, a masochist is a person who sees pain as pleasure. Even though the above explanations are linking this masochism thing as something sexual, I smarty-pantedly can also link this to the "love phenoonema" that has been going on through my friends on my friend list, both on facebook and the real world.

So, a lot of my friends did all these things that indicates them being in a love trouble or some sort (let's call it galau from now on), referring to a note made by this good friend of mine, who is also in a state of galau. So, she said that these dudes and dudettes did the following things:
- listen to mellow songs
- put mellow status on facebook
- thinking of their lover over and over, thus, getting lack of sleep
- making love poems
- write notes on facebook on how tortured they feel on love

Well, my friend there showed the symptoms of this galauness. Well, what I see is that those things my friends did were a clear prove that they truly are a masochist.

I got friends complaining about how this galau thing just troubles their life and how they wish it would go away, but I think they actually kinda enjoyed it.

Lets compare you and this galau thing to a hand and a hot fire. If you put your hand in a fire by accident, you will pull your hand right away, because fire is painful on your skin. But if you feel this galau thing, you don't want to pull away. You still want to stay on that bed waiting till dawn, listening to those ballads, and be galau every second of those times. You want to stay like that because the pain is actually a pleasure. Surprising?

So, masochist trait is in everybody, only the levels are different. Some of you like to be spanked during intercourse, some of you like to get extreme and do bondage and get yourself handcuffed or even get pierced like what i saw in magazines (woops!), or some of you just can't stop thinking about love over and over. Bottomline: You're a masochist!!

So, is there any solution to this self torturing? I don't know. I wish I knew, but it's too comfortable in this bed with these love songs from the stereo. I couldn't care less.

Have fun!