Selasa, 30 Juni 2009
Orang yang Berprinsip adalah Orang yang Perutnya Kenyang
Jadi kakak saya yang di Singapur akan kedatangan bayi yang Insya Allah akan lahir. Nah di keluarga sedang ada issue tentang kewarganegaraan jabang bayi ini, apakah tetap menjadi orang Indonesia atau jadi orang sana.
Sedikit ulasan tentang kakak dan istrinya. Mereka berdua adalah smarty pants yang dari SMP sampai kuliah dibayarin pemerintah Singapur, dan akhirnya mereka jadi terikat ikatan dinas dan harus bekerja untuk perusahaan apapun, yang penting perusahaaan Singapur. Mereka yang dulu dibangga2kan karena berhasil sekolah di sekolah yang "lebih baik" dari sekolah ortunya (dan gratis pula) kini menjadi tki dan tkw asal Jakarta dan Malang. Ya, saat memutuskan menerima beasiswa, gambaran penjajahan bangsa tidak terlihat saat itu. Yang ada hanya syukur Alhamdulillah, ibu gak perlu capek-capek nambah volume cucian demi bayar uang sekolah anak pertamanya.
Tentu dengan gelitikan nasionalisme, semua orang di keluarga menginginkan anak ini tetap jadi orang Indonesia. Namun bila ditimbang2, benefit kalo anak ini jadi Singaporean lebih gede karena dia akan menerima tunjangan dan fasilitas2 yang oke dari pemerintah sana. Jauh lebih besar ketimbang santunan pemerintah Depok yang cuma 2 juta rupiah per warganya. Itupun santunan orang meninggal.
Inilah yang mencubit hati saya. Saya berpikir, kenapa seseorang bisa tega mengorbankan negaranya. Apalagi kalo negaranya sangat membutuhkan dukungan seperti Indonesia. Hmhmm. Yah, ternyata karena kami miskin. Kere cuy.
Karena kami tidak kaya raya mblegedu, tiap ada kesempatan perbaikan hidup, tentunya akan disambar, kapanpun dimanapun apapun bagamanapun. Tentu saja mereka bisa memilih pilihan yang lebih nasionalis, tapi agak males juga yah kalo harus kecempet-cempet kereta ekonomi Jakarta-Bogor, padahal ada tawaran naik MRT yang sejuk.
Jadi kesimpulan saya:
Kalau orang berprinsip itu pasti karena mereka mampu untuk berprinsip. Kehidupan mereka sudah cukup mencukupi, sehingga mereka punya waktu senggang untuk memikirkan prinsip-prinsip hidupnya. Lain sama tukang pepaya yang waktunya tersita untuk muter-muter keliling komplek. "Payaa payaaaa pisaaaang jambuuuu...."
Duh, mudah-mudahan pesan yang gw maksud nyampe ke kamu yang membaca. Semoga semoga.
Minggu, 28 Juni 2009
Pergulatan Dua Manusia dalam Satu Tubuh
Oke, pernahkah anda dimarahi orang tua, intensitas amarahnya tinggi, mungkin gebrak2 meja dikit, nampar2 dikit, terus anda balas berteriak2 membela diri, tapi sambil marah2 itu sebenernya anda fine2 saja? Hmm saya sering seperti ini. Saat bertengkar dengan orang tua, ada seseorang dalam diri saya yang bisa bersenandung lagu2 pop pasar di dalam hati seakan2 saya lagi potong kuku saja. Padahal ada perang kalor di luar tubuh saya, tapi saya yang di dalam tetap merasa seperti berada di kelas Writing 1 yang adem.Atau saat anda sedang bersenang2 ekstatik orgasmik bersama teman atau kekasih terkasih, lalu tiba2 diri anda mengatakan, wahh hari ini seru juga yahh?
Nah, si pihak dalam diri yang tetap adem ayem saat anda sedang berada di kutub2 emosi, sebenarnya adalah diri anda yang sesungguhnya. Ilmu barat menyebutnya, inner self, higher self, atau saya senang menyebutnya "saya yang sebenarnya".
Jadi orang tersebut adalah ya, diri anda sendiri, bukan malaikat bukan juga setan. Tapi ia adalah diri anda yang SESUNGGUHNYA. "Sesungguhnya" maksud saya adalah orang yang sesuai default factory setting Sang Pencipta. Diri anda yang sempurna sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk tersempurna. Diri anda yang selalu tenang, bahagia, bijak, cerdas, dan sifat-sifat baik lainnya. Hanya saja seiring waktu dan perkembangan otak, diri anda yang satu lagi (pikiran) mengambil alih tubuh dan mengambil alih sistem pemilihan respon-respon diri terhadap rangsangan luar. Pikiran yang seringkali negatif, mengubah diri sehingga akhirnya anda menjadi anda saat ini. Yaitu manusia yang serba berkekurangan dalam kepribadian. Baik terlalu penakut, terlalu merasa dirinya tinggi, terlalu baik, atau terlalu cuek. Semua sifat yang memiliki embel-embel "terlalu" pada manusia adalah buah dari pikiran kita yang mengizinkan kenegatifan masuk.
Contoh:
Saya Titis Pratiwi. Secara default factory setting sang Pencipta, saya diciptakan sebagai orang yang kecantikannya sempurna. Namun seiring perkembangan, saya dengan pikiran saya mulai menyentuh yang namanya majalah, tivi, pergaulan, dan segala bentuk komunikasi lainnya. Sehingga saya melihat orang lain (yang tentunya tingkat kesempurnaan kecantikannya sama dengan saya), dan merasa ada satu atau lebih bagian dari saya yang bentuknya tidak sekeren bagian orang itu. Namun, karena orang yang saya lihat ada banyak, dan tiap orang memiliki satu atau lebih bagian yang lebih sempurna dari saya, akhirnya pikiran saya menganggap bahwa tiap bagian dari saya pasti kalah dengan bagian-bagian lain dari orang lain. Padahal, sesuai dengan kodrat sang Pencipta, kecantikan saya sempurna. Pikiran saya mulai menerima bahwa saya kurang cantik. Dan seiring perkembangan, pikiran saya mengambil alih tubuh saya. Akhirnya dari ujung rambut ke ujung kaki sampai ke ginjal, semua mempercayai bahwa saya tidak secantik orang-orang itu. Dan akhirnya, jadilah kenyataan saya tidak secantik mereka. Karena seluruh tubuh saya sekarang bergerak dan bertingkah laku sesuai pola pikir bahwa saya tidak secantik mereka.
Tapi tetap, "diri saya yang sebenarnya" mengatakan bahwa kecantikan saya sempurna. Sehingga kadang saat saya bertemu pandang dengan diri saya di cermin atau jendela mobil orang, "diri saya yang sebenarnya" tiba-tiba berkata "ah ngga ah, gw ga jelek2 amat." Namun, secara pikiran sudah menjadi rajanya tubuh saya, saat bersanding dengan teman saya yang model, cepat2 perkataan tadi saya ralat.
Itulah pergulatan "diri yang sebenarnya" dengan pikiran. Saya percaya bahwa sang Pencipta itu cukup baik kepada saya, sehingga ia memberikan pengarahan kepada saya melalui "diri yang sebenarnya" itu. Jadi, bila kita sedang negatif, cobalah berlatih diri untuk menyadari keberadaan "diri yang sebenarnya". Dengarkanlah kata-katanya. Biasanya ia suka bergurau-gurau sedikit, tapi semua yang ia ucapkan adalah kenyataan. Dan ia selalu baik, walau kadang perkataannya mungkin menyakitkan. Anggap keberadaannya adalah hadiah dari sang Pencipta yang selalu mencintai kita dan selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. Dewasa ini, dunia terlalu dipenuhi dengan pikiran. Pikiran-pikiran yang selalu bilang bahwa kita kurang ini dan kurang itu. Pikiran dapat menghancurkan diri sendiri, kalau pikiran itu negatif.
Enjoy!
Kamis, 25 Juni 2009
Filosofi di Balik Sampo Sachet
pic courtesy of: http://behance.vo.llnwd.net/profiles/78466/projects/112566/784661217434734.jpg
Saya itu sering berganti sampo. Topik yang lumayan gak penting lah ya buat sebuah blog post, tapi saya menemukan salah satu makna hidup di balik kebiasaan itu. Setiap saya mencoba sampo, saya seenak jidat langsung beli yang botolan. Karena saya pikir gambar dan kata-kata di botolnya itu cukup menjanjikan untuk rambut saya. Saya yang selalu langsung percaya sama orang (dan botol sampo), langsung percaya dan membelinya. Tapi apa yang terjadi? Buah semangka tertusuk duri. Setelah pemakaian beberapa minggu, ketauan lah ternyata nggak cocok itu sampo, baik bikin kering, rontok, gak asik, gak cantik, dan kekecewaan-kekecewaan lainnya.
Lalu apa yang saya lakukan dengan sisa sampo yang masih ada. Saya paksa bibik saya pakai itu sampo. Cocok nggak cocok, abisin lah bik. Saya memberinya dengan sedikit bergaya seakan-akan saya memberi si bibik kemewahan dengan sampo itu, padahal saya cuma berusaha membuangnya. Non sense.
Lalu, abis itu saya pakai apa? Biasanya kejadian ini terjadi tengah minggu. Jadi musti nunggu weekendnya dulu untuk ikut mamak belanja beli sampo. Jadi selama sisa minggu, tiap hari saya suruh bibik ke warung membeli sampo sachet. Saya suruh beli 2 sachet yang mana per sachetnya dihargai 500 rupiah. Sehingga berbekal seribu perak, tiap hari sampai weekend si bibik jalan 120 langkah (angka ngasal) ke warung bu ellen atau pak ujang atau om yudho.
Lalu, akan saya pakailah kedua sachet itu secara bersamaan pada rambut saya yang panjang nanggung.
Oke. Terus poinnya apa??
Ternyata saya menemukan sebuah fakta bahwa saya adalah seorang penyombong kelas warung. Yaiks. Karena saya merasa mampu membeli sampo sachet dengan jumlah melebihi yang dibutuhkan, dan saya pakai semuanya secara bersamaan. Wong rambutnya cukup pake satu sachet, saya beli dua! Karena saya mampu! Karena saya kaya! Hahahaaa..
Ada sebuah rasa kepuasan dalam melakukan hal ini. Saya bisa menyombong bahwa saya mampu beli sesuatu berlebih-lebih. Walau yang tau cuma bibik saya (Dan sekarang lo yang baca juga jadi tau, karena gw pengumbar diri sejati). Saya merasa seperti istrinya david Beckham yang membeli tas manohara. Tas Hermes itu, disukai oleh Victoria Beckham, sehingga ia datang ke tokonya dan bilang, "Saya kaya, saya mau beli tas manohara ini. Tapi saya gak cukup cuma punya satu, saya mau beli semua warna di toko ini, karena saya mampu. Ikutin warna pelangi ya mas!"
Cool.. Kesombongan saya dengannya ternyata sama. Ternyata saya berada pada tingkat kemanusiaan yang sama dengan Victoria Beckham. Dia bisa menghambur-hamburkan beli tas Hermes dengan jumlah yang lebih dari kebutuhan, saya juga bisa beli sampo sachet berlebih-lebih.
Terus sekarang gimana dong? Apakah dengan nulis entry ini, gw jadi sadar bahwa pemakaian sampo berlebih gw itu mubazir? Apakah gw jadi sadar bahwa uang gopek yang kelebihan itu sebenernya bisa disumbangin ke anak jalanan? Apakah gw jadi sadar bahwa masih banyak anak Indonesia yang kecukupan konsumsi susu sapinya kurang? Apakah gw jadi sadar bahwa entry kali ini nyampahnya gak kira-kira?
Nggak, gw ga sadar.

YOU SON OF A MASOCHIST!!
Yes, believe it or not, you are!! Why do I say so? Because being a masochist is a basic humanly human characteristic. So, if you're parents are real humans, they surely have traces of this pityful trait. And since they're seeds met and combined and then spawned into you, you actually inherited it too. That makes you a masochist by nature.
For those who don't now what a masochist is:::
mas·och·ism (ms-kzm)
n.
1. The deriving of sexual gratification, or the tendency to derive sexual gratification, from being physically or emotionally abused.
2. The deriving of pleasure, or the tendency to derive pleasure, from being humiliated or mistreated, either by another or by oneself.
3. A willingness or tendency to subject oneself to unpleasant or trying experiences.
masoch·ist n.
masoch·istic adj.
masoch·isti·cal·ly adv.
As seen on the above definitions which I'm quite sure you didn't read, a masochist is a person who sees pain as pleasure. Even though the above explanations are linking this masochism thing as something sexual, I smarty-pantedly can also link this to the "love phenoonema" that has been going on through my friends on my friend list, both on facebook and the real world.
So, a lot of my friends did all these things that indicates them being in a love trouble or some sort (let's call it galau from now on), referring to a note made by this good friend of mine, who is also in a state of galau. So, she said that these dudes and dudettes did the following things:
- listen to mellow songs
- put mellow status on facebook
- thinking of their lover over and over, thus, getting lack of sleep
- making love poems
- write notes on facebook on how tortured they feel on love
Well, my friend there showed the symptoms of this galauness. Well, what I see is that those things my friends did were a clear prove that they truly are a masochist.
I got friends complaining about how this galau thing just troubles their life and how they wish it would go away, but I think they actually kinda enjoyed it.
Lets compare you and this galau thing to a hand and a hot fire. If you put your hand in a fire by accident, you will pull your hand right away, because fire is painful on your skin. But if you feel this galau thing, you don't want to pull away. You still want to stay on that bed waiting till dawn, listening to those ballads, and be galau every second of those times. You want to stay like that because the pain is actually a pleasure. Surprising?
So, masochist trait is in everybody, only the levels are different. Some of you like to be spanked during intercourse, some of you like to get extreme and do bondage and get yourself handcuffed or even get pierced like what i saw in magazines (woops!), or some of you just can't stop thinking about love over and over. Bottomline: You're a masochist!!
So, is there any solution to this self torturing? I don't know. I wish I knew, but it's too comfortable in this bed with these love songs from the stereo. I couldn't care less.
Have fun!
Rabu, 20 Mei 2009
Tentang Saya 3

Ada yang bilang, Tuhan itu diciptakan oleh manusia. Wah, gila parah banget kalimat barusan. Gw gak tau siapa yang mengeluarkan pernyataan itu. Gw dengernya samar-samar.
Saat itu gw adalah seorang anak kere yang tidak terlalu berpegang pada Tuhan mana-mana, karena gw belom tau apa-apa banget tentang Tuhan. Yang gw tau, saat itu gw miskin. Kere. Pingin sepatu cantik, rambut mengembang ngeblow ke dalem poni sempurna, kulit putih mulus tak terkena matahari dari jendela angkot, baju2 manis dan gaul menyembunyikan cacat, makan-minum enak, buku komik dan novel tanpa batas, tapi gak punya uang. Susahlah. Ada teori ekonomi, "Supply creates its own demand". Penawaran menciptakan permintaan. Banyak banget tawaran berbagai macam barang-barang cakep di mana-mana, dan permintaan gw jadi timbul karenanya. Tapi, sayangnya demand doesn't create its own supply. Walaupun gw pingin banget dan meminta banget-banget akan barang-barang itu, gak ada yang mau menyediakan barang-barang itu ke gw. Gw rasa sebenernya gw bisa tuh bikin tampang gw cakep pas sma, asal duitnya ada!!! Sayangnya tu duit ga dateng-dateng. Hahaha.
Terus sayup-sayup gw denger bahwa ada harapan buat semua orang miskin di dunia. Ada cara gampang banget untuk dapetin apapun yang lo inginin di dunia, kapanpun lo menginginkannya. Besar-kecil, panjang-pendek, lama-cepetnya pengabulan permintaan tuh ga jadi masalah. Orang kere mana sih yang gak tergiur dengernya.
Dari situ gw cari tau kemana-mana. Nama teori ilmiahnya itu cara adalah Law of Attraction. Hukum tarik-menarik. Nama buku yang ngenalin itu teori adalah The Secret.
Pause.
Di kepala lo pada pasti pingin bilang, SAMPAH LO TIS. Tapi gimana, saat itu gw bagaikan musafir di padang pasir di kasih coca-cola. Pengemis diberi surat tanah. Girang banget. Akhirnya, ada cara untuk menjauhkan diri dari kesusahan. Akhirnya ada cara biar gw jadi cakep dan bisa menggaet (atau menipu) cowok cakep. Akhirnya gw bisa bahagia sepenuhnya kayak anak-anak lain yang selalu bersenang-senang.
Gw tes lah itu teori. Katanya lo tinggal minta, percaya, dan terima. Semuanya akan dikabulin. Oke, gw coba hal-hal kecil. Gw minta taksi, lewatlah taksi. Masih gampang. Gw minta selalu ada angkot kosong yang nungguin gw di jalan besar, dan selalu ada lah itu angkot setia banget. Masih gampang. Gw tes yang lebih hebring deh. Hal yang gede bagi gw, tapi kalo gw ga dapet juga ga papa. Gw minta 14 juta rupiah. Angka ngasal. Cukup gede sampe gw bakal terpana kalo gw bisa dapet, cukup kecil sehingga gw masih bisa percaya bahwa gw bisa dapet itu duit. Tiga minggu kemudian 13,7 juta dateng. Begitu saja. Walau akhirnya itu duit jatuh ke tangan emak agar dapur mamak tetap lah mengepul, gak papa, gak sakit hati kok buuu.
Jadi, ternyata itu teori bener. Gila gw jingkrak-jingkrak parah. Gw ngerasa jago. Gw ngerasa kuat. Gw ngerasa bahwa gw bakal bahagia selama-lamanya. Gw lahir kembali. Berasa lebih lahir daripada orang yang abis puasa sebulan penuh. Dan mulai dari saat itu gw jadi orang yang positif parah, dan selalu mendapatkan apa yang gw inginkan, kapanpun gw menginginkannya. Tapi ada dampak buruk. Gw pingin semua orang tau "rahasia" ini. Gw berusaha nyebarin ini teori. Gw pingin semua orang nemu kebahagiaan yang sama yang kayak gw rasain. Gw pingin ngubah dunia. Semua orang bisa jadi konglomerat. We'll sing and dance forever and a day. Wuihhh kehidupan ideal banget. Saat itu lah gw jadi orang gila. Obsesif. Semua orang yang gw kenal, gw kasih tau tentang ini teori. Semua orang harus bahagia. Bahagia itu hak.
Ternyata gw salah. Pertama, salah milih orang. Gw ngajakin temen-temen yang emang udah anak orang kaya. Yang udah bisa dapet itu baju bagus dan makanan enak itu. Gw dianggep sedeng. Kedua, gw terlalu menggebu-gebu. Namanya juga penganten baru kan. Hotnya parah. Makin dianggep sedeng aja kan gw. Tapi gak papa, gw kan punya ecstacy gw, the secret. Hal ini cukup merusak image gw yang emang udah rusak.
Lanjut.
Gw tiap hari meminta hal-hal yang gw inginkan. Gw meminta dengan semangat penuh. Gw kunci kamar, dan gw minta dengan loncat-loncat kegirangan. Kegirangan loncat tinggi, orgasmik. Dan terus lah gw dapetin apa yang gw minta. Tapi setelah itu gw capek. Capek banget. Itu semester 1 kuliah dan gw jadi stres. Saat itu gw gak tau kenapa gw begitu. Gw down tiap hari. Makin hari muka gw makin jelek. Penampilan gw makin culun, gak bener. (Emang udah jelek dan culun sebenarnya, gw tulis begini biar ngasih kesan keren aja). Males banget apa-apa. Tiap malam diisi dengan tiduran-ga-bisa-tidur, dan ga mikirin apa-apa. Mending deh kalo mikirin pacar di perantauan, ini gw tau knapa gw stres aja ngga. Gw jadi ngerasa semua orang musuh yang ga ngerti gw. Gw orang paling jelek, gendut, aneh, ansos dan norak yang pernah ada. Semua omongan gw jadi garing, lawakan gw jadi jayus. Orang-orang terdekat gw, gw ajak berantem tanpa sebab. Sampe sekarang pun residu pertikaian masih ada. Gw nyesel banget gila. Terus puncak kefreakan gw adalah saat gw tiga hari ga masuk hanya untuk duduk bengong di ruang tv, tanpa menyalakan tv. Gw duduk kaku gak gerak, tapi isi pikiran gw kayak mesin cuci. Penuh dan muter-muter. Gw jadi bingungan. Ini kira-kira isi obrolan gw dan gw:
Aduuh capeeek. Pingin kabur ke afrika. Pingin kabur ke suatu tempat dimana gw ga punya urusan apa-apa. Tempat dimana gw cuma butuh makan dan minum secukupnya untuk hidup. Tempat pikiran gw kosong. Pikiran. Apaan sih pikiran. Kenapa kita hidup sambil mikir. Knapa gw harus berpikir. Apaan sih, ini hidup yah? Beneran nih? Gw beneran sesuatu yang roh-roh kayak gas gitu di dalem suatu benda yah? Apa sih ini? Ini tangan gw yah? Gw bisa gerakin ini tangan. Kenapa bisa ni tangan gerak yah? Pikiran gw yang ngontrol tangan ini. Ah coba gerakin lagi. Wah bisa. Ajaib. Wah gw gila. Ini tempat apa sih. Gw ada dimana sih. Ini hidup yah? Mau ngapain pun gw, gw ga bisa kabur dari hidup yah. Ih Tuhan ngapain bikin manusia yah. Kayak polly pocket. Iseng kali yah dia. Tapi terus manfaat hidup buat gw apa dong. Apaan sih. Ini hidup yah. Kenapa gw harus hidup. Kenapa gw ngerasain ini semua. Bisa ga yah, gw tiba-tiba bangun terus gw kemana gitu kek. Hmm, knapa gw stress yah. Apa sih sistemnya Tuhan ngatur manusia. Hmm law of attraction yah. Iya sih bener sih, gw minta apa aja dapet. Tapi kalo gw sekarang selalu dapet apa yang gw minta, kenapa gw bisa jadi gila kayak orang gila. Aneeeeh. Hidup ini aneh. Ngapain coba. Gw jadi bonekanya Tuhan yah. Haaah capek gw dengan the secret. Capek gw minta2 loncat2 kegirangan orgasmik. Capeeek. Pingin kabur. Haaah kok sekarang gw jd males meminta yah. Haaaah ask, believe, recieve. Sampah. Meminta, percaya, terima. Ternyata segala sesuatu baru jalan kalo kita percaya yah. Percaya kalo itu semua bisa dikabulin. Hmm percaya bahwa yang gw minta bakal dikabulin??
Wait........
Saat itu gw tersentak. Percaya sama siapa? Siapa emangnya yang bakal ngabulin permintaan gw? Dan ternyata jawabannya sangat, hmmm, naif? munafik? goblok? Masa hal kayak gini aja, lo ga tau sih tis. Ternyata percayanya kepada sang Pencipta!!! Berarti selama gw norak2 the secret, selama gw norak2 ask, believe, receive itu, gw tuh percayanya kepada Sang Pencipta. Walaupun saat itu gw ga nyadar sama sekali bahwa gw percaya sama dia, gw ternyata sedang memberikan kepercayaan kepada Nya. Ternyata Ia mengabulkan segala permintaan gw. Ternyata Sang Pencipta udah bikin ini dunia yang isinya bumi, bintang2, matahari, lalala, dan masang berbagai hukum untuk diaplikasiin di dunia ini, buat gue!!! Segala sesuatu itu Ia buat untuk gw sadari dan mengertiin, sehingga gw bisa gunakan untuk nikmatin ini dunia. Ternyata Tuhan baik banget. Ternyata kata sd gw, bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu bener-bener bener! Hoo gitu toh maksudnya. Ternyata Allah itu saking baiknya, gw diciptain untuk ngerasain hidup. Dan kalo gw bisa ngertiin maksud-Nya, ada kesempatan buat gw nikmatin hidup ini. Ya ampun, dari dulu gw kemana aja. Ternyata gw boleh menikmati dunia sekarang. Kirain, gw bakal hidup susah dulu di dunia manusia, terus disiksa dulu di neraka untuk pembersihan, baru entar merasakan kenikmatannya di surga. Tapi ternyata, sekarang pun gw udah boleh menikmati hidup kok. Ternyata Allah itu baik banget. Ternyata Allah itu sangat mencintai gw. Ternyata cinta yang gw cari dari lelaki yang ingin gw tipu-daya saat gw nanti menjadi cantik, belom diperlukan juga. Karena saat ini ada Allah yang mencintai gw. Itu dulu aja yang perlu gw tau saat ini.
Terus gw mulai menyadari segala sesuatu di sekitar gw. Ternyata spaghetti yang gw makan itu bukti kasih sayang Allah. Gw diizinin makan makanan seenak itu, apalagi bukan kalo bukan karena Allah itu Maha Pemurah. Wuihh gila aneh banget. Kata-kata pendek yang diajarin di sd islam gw, ternyata bener2 kenyataan. 99 nama Allah. Maha Pemberi, Maha Pengasih, dll itu beneran kenyataan.
Gw sekarang jadi positif, tapi berkesinambungan dan lebih tenang. Kalo ada masalah dateng, gw punya tempat mengadu, dan tempat itu akan bantu gw nyelesein masalah. Ternyata hidup itu seru. Dinikmatin aja. Kalo gw kepanasan di angkot, gw resapin rasa panasnya, nikmatin detik demi detik. Karena pertama, hanya itu yang bisa gw lakukan. Dan kedua, kalo gw udah bawa lexus gw, gw ga bakal ngerasain panas kayak gitu lagi, bisa2 kangen entar.
Selesai.
Kamis, 14 Mei 2009
Ciuman Sebelum Menikah: Mematikan

Sambil menonton film jelek di bioskop gelap yang dingin itu, kami tak sengaja bertemu pandang. Tapi pandangan kali ini beda, sangat berbeda. Saya sampai dibuat takut olehnya. Takut karena saya telah mengetahui sebuah fakta yang sebenarnya sih sangat obvious, tapi memalukan. Ia ingin mencium saya. Tau betul saya, yakin seratus persen. Walau belum pernah saya tau seperti apa itu berciuman bibir dengan lawan jenis, saat ini seperti ada gluduk kencang yang membisikan sebuah pengetahuan entah dari mana: ia menginginkan bibir saya. Saya yang sebenarnya hanya pernah bermimpi-mimpi tentang sebuah movie kiss jadi berpikir, kalau saya mengizinkan orang ini mencium saya, ketauan dong kalo gw juga pengeeeen!!!! Nggak!! Gila, malu banget. Harga diri gw sebagai wanita, harga yang jauh lebih mahal daripada barang katon manapun di dunia, bakal jatuh ke dasar palung mariana kalo ketauan. Biarin deh gw munafik, tapi jangan sampe ketauan kalo gw jg pingin dicium ini anak! Jangan sampe ketauan kalo bibir dia itu sering ada dalem visualisasi gw di siang bolong dan doa memohon gw di malam hitam. Jangan sampe ciuman ini terjadi. Ah, tapi aku juga mau. Ah, tapi memang ini yang gw inginkan dari dulu. Ah, kenapa mukanya ngedeket sih. Ah, kenapa dia nyebut nama gw dengan suara berbisik tercekat kayak orang gantung diri sih. Anjing, gw nervous abis. Anjing, merem aja gw. Anjing. Anjing. Anjing. Alhamdulillah.....
Gw tanya ke temen gw yang habis putus dengan cowoknya yang menjadi lelaki first kiss dia. Bukannya menenangkan temen gw, atau menghiburnya, gw malah ngubek2 tentang first kissnya dia. Sungguh kurang ajar gue, sebagai teman. Tapi kayaknya pas aja gitu, kalo gw nanya saat itu. Pertama gw ceritain tentang bayangan gw pas first kiss, dan ternyata kata dia, bayangan gw SALAH!!! Lebay kayak komik2 jepang serial cantik. Kemakan komik banget gueeee. hahaha.
Trus gw tanya, apakah event tersebut memalukan. Dia bilang malu banget. Abis dicium, temen gw jadi gak bisa gerak gitu saking malunya. Hahaha.
Dan mulailah analisis gueee::::
Kenapa kita gak boleh sentuhan fisik/seksual sebelum menikah? Karena sentuhan-sentuhan itu bersifat mengikat yang sangat kuat. Apalagi untuk cewek, makhluk lemah yang gampang kegeeran. Saat-saat bersentuhan itu, seorang cewek rela melepaskan harga dirinya. Harga diri? Ya. Saat berciuman, seorang cewek rela malu semalu-malunya karena ketauan menginginkan ciuman itu. Malu-semalunya karena ternyata akhirnya ketauan bahwa si cewek itu pun juga punya hasrat-hasrat yang sama kayak cowoknya. Cewek yang biasanya marah-marah, kalo denger temen-temen cowok kegirangan pas lagi ngobrol bokep, ternyata doyan juga sama hal-hal begituan. Malu, karena ketauan bahwa dulunya ia munafik. Maluuu!!!
Makanya ciuman, etc sebaiknya setelah menikah. Karena dengan sentuhan-sentuhan itu, hubungan laki-bini akan terikat kuat. Si laki bersedia menjaga rasa malu si bini, dan si bini rela memberi semua malunya ke si laki. Kalo sentuhan-sentuhan itu dilakukan sebelum nikah, dan akhirnya putus. Hacur lah itu cewek. Makanya suka banyak cerita lebay tentang cewek diputusin.
Dan kalo sentuhan-sentuhan itu dilakukan setelah menikah, rasanya gimana yah. Kayaknya bakal jauh lebih nikmat gitu. Karena keinginannya udah ditahan2 dari lama. Ntar pas eksekusi, pasti rasanya kayak meledak2 hahaha. Kalo sebelumnya udah seneng begitu2an sebelum nikah, pas udah nikah hal2 kayak gitu jadi kerasa biasa aja. Nikah cuman pacaran biasa, tapi harus bayar tagihan. Kalo gitu2an setelah nikah kan jadinya ada bumbunya gitu.
Duh ngelantur parah gue. Munafik!!!!!!!
Minggu, 10 Mei 2009
Tentang Saya 2
Katanya kan yang bukan orang Islam itu kafir yah. Orang kafir kan masuk neraka karena mereka telah melakukan perbuatan yang amat sangat salah dan tidak bisa ditoleransi lagi sama Allah yang kata orang Maha Pemaaf itu. Jadi gimana dong sama orang-orang di pedalaman afrika yang ga punya akses kepada dunia luar. Mereka lahir di sana dengan agama/kepercayaan mereka yang primitif (kalo mereka cukup berbudaya untuk punya [wait, kalo gw ngomong begini, berarti maksud gw agama produk budaya dong]). Menjalani hidup mereka dengan kepercayaannya itu, dan mati dengan tetap memeluk agamanya itu. Masa mereka juga bakal dibakar selama-lamanya di neraka terbawah bu. Mereka kan gak salah. Gak tau apa-apa. Gimana tuh? Jahat banget dong Allah ya.
Lagi-lagi gw tekankan, bahwa waktu itu gw belom berilmu, masih goblok. Goblok banget sampe nanya pertanyaan kayak gini. Jadi gw semasa smp hidup dengan membenci Allah karena gw belom nemu pertanyaan ini, sambil tetep shalat zuhur sekali2 di sekolah kalo anak lain pada shalat.
Oke pertanyaan itu terus gw cari jawabannya sampe gw masuk SMA. Kelas 1, gw tanya pertanyaan ini ke anak yang duduk di depan gw. Dia juga bingung. Dan dia juga penasaran sama jawabannya. Gw jadi semangat. Dia ngajak nanya ke guru agama, lagi-lagi gw masih takut sama guru agama. Trauma gw kepada guru agama mengakar sampe sekarang. Karena kalo gw ketemu guru agama, gw takut ketauan segala busuk gw. Kayak guru-guru agama gw yang psychic waktu sd. Gw jadi masang sterotip bahwa semua guru agama itu psychic. Gw takut ngeliat cara mereka memandang gw. Walaupun di SMA ada guru agama yang selalu memandang murid-muridnya dengan penuh cinta, gw tetep serem ngeliat guru agama. Huh sebisa mungkin ga berurusan sama mereka. Wah gila, baru setelah gw ngetik ini lho gw sadar kenapa gw takut sama guru agama. Wah ternyata menulis ada manfaatnya juga.
Setelah temen gw ngajak nanya ke guru agama, gw lupa apa yang terjadi sesudahnya. Kayaknya gak jadi nanya deh. Atau mungkin jadi, temen gw itu nanya pas pelajaran. Tapi mungkin gw gak dengerin banget. Tak tau lah. Pokoknya pertanyaan itu sepertinya belu ketemu jawabannya. Hmm sebenernya gw udah punya gambaran sih akan jawabannya. Tapi gw belum berani ngungkapin dulu. Entar lagi kalo udah oke.
To be continued..
Sabtu, 09 Mei 2009
Tentang Saya
Tapi sekarang saya berani berbicara, berani mengakui pijakan saya terhadap agama dan hubungan pribadi saya dengan Pencipta. Teman-teman itu saya jelaskan tentang diri saya hingga sampai pada kesimpulan, everything happens for a reason. Begini cerita saya..
Saya terlahir dari keluarga dengan latar belakang religi yang berbeda-beda. Mulai dari bapak saya. Bapaknya dia Islam(islam abangan juga saya rasa), menikah dengan istrinya yang dari keluarga jawa yang katolik. Dari keluarga masing-masing eyang saya itu juga banyak perbedaan agamanya. lalu mereka punya 5 anak, bapak saya anak ke 3. Yang aneh dari bapak saya, dari 5 bersaudara, hanya bapak saya yang memilih Islam. Sisanya adalah katolik. Katanya bapak Islam dari kecil dan saudara2nya Katolik dari kecil. Bapak sendiri tak pernah menjelaskan kenapa dia memilih Islam, "yaaah pokoknya Islam lah", jawab bapak saya. Sebagai satu-satunya muslim di keluarga katolik(kakek akhirnya pindah katolik), saya rasa tingkat keislaman bapak saya gak tinggi. Cuma ikut pengajian kampung, etc. Baik, itu bapak saya.
Lalu ibu saya. Bapak-ibu dari ibu saya berKTPkan Islam. Namun mereka masing-masing memilih kepercayaan aliran sebagai pegangan mereka. Kakek saya ikut aliran Jawa namanya Pangestu, markasnya di daerah Gandaria, daerah eyang saya. Katanya Pak Harto juga ikut Pangestu. Alirannya bernafaskan Islam, tapi sepengertian saya aliran tersebut lebih mementingkan hubungan manusia secara horizontal, ketimbang aspek-aspek rutin Islam. "Kalau ada jarum jatuh, pungutlah, nanti ada yang terluka", itu yang sering ibu saya sebut-sebut tentang ajaran Pangestu. Oke lah, kakek saya saking cintanya sama Pangestu, dia ngedonasiin warisan bapaknya yang guede banget gitu kata Ibu gw ke Pangestu, sampe bikin berantem kakek-nenek gw. Nah, sekarang nenek gw. Dari semua kakek-nenek gue, nenek yang inilah yang paling Islami di antara yang lain. Dia shalat, walau cuma sekali-sekali, dia juga puasa kalo bulan puasa dan kalo anak-anaknya ujian. Yang gw liat dari nenek gw ini, dia ikut aliran sufi. sebenernya dari semua eyang, gw cuma kenal yang ini, 14 tahun tinggal di rumahnya. Tiap minggu ada pertemuan sufi di rumah kami. Yang dateng kakek-kakek bawa laptop(jaman itu laptop belom ngetren tuh padahal) dia bosnya gitu, orang-orang chinese, india, pribumi, eyang-eyang, dan anak muda kadang-kadang. Gw gak ngerti alirannya gimana. Kyaknya universal gitu deh, ga terikat ke satu agama. Yang gw tau, dulu gw gak setuju banget sama kelompok itu. Dulu gw masih belom seterbuka sekarang. Dulu gw takut banget nenek gw bakal dibakar di neraka. Padahal harusnya gw takutin diri sendiri. Sayang, nenek gw udah meninggal sebelom gue bisa ngerti inti alirannya dia. Padahal gue penasaran. Terus ibu gw. Jaman dulu sekolah yang bagus adanya sekolah katolik. Jadi dari tk sampe sma, dia disekolahin di sekolah katolik cewek. Tapi dia gak jadi katolik sih. Banyak yang Islam juga di sekolah itu.
Oke itu background keluarga gw. Apa yang bisa ditarik dari paragraf di atas anak-anak? Keluarga gw gak Islami kayak keluarga-keluarga lain. Bapak-ibu gw gak ngajarin gw sholat, gak nyeritain gw kisah nabi, gak ngasih teladan berpuasa di bulan suci Ramadhan. Mereka cuma masukin gw dan kakak gw di tk dan sd islam aja. Udah. mereka pikir sekolah tersebut bisa mengislamikan gw dan kakak-kakak gw. Mereka pikir kehadiran lembaga madrasah bisa menutupi kewajiban mereka sebagai penuntun gw dalam hidup beragama. Mereka pikir akhirnya gw dan kakak-kakak gw bakal jadi orang-orang pertama di garis keturunan kami yang akan jadi Islami beneran. Setengah salah. Dua kakak-kakak gw jadi Islami. Gw nggak. Kenapa gw nggak? Gw belom tau. Jadi sekarang udah terjawablah kenapa gw gak Islami. Karena keluarga gw gak Islami. Gw gak dipaksa shalat/puasa dll. Orang tua gw ga nulis apa-apa di kertas keagamaan gw. Kertas gw masih kosong. Harus gw sendiri yang nulis, cari tau sendiri. Akhirnya temen-temen gw bisa jadi rada ngerti lah sekarang.
Oke sekarang gw cerita perkembangan spiritual gw di tiap fase sekolah gw. Tk gw lupa. Kayaknya gw belom ngapa-ngapain. Sd gw di sd islam. image sd gw di mata gw sampe sekarang adalah: HOROR. Ogah banget gw sekolah islam lagi. hafalan, hafalan, hafalan. Guru gw psychic gitu, murid yang ga shalat bisa ketauan. Murid yang ga puasa, juga ketauan. Jangan-jangan murid yang udah ga perawan juga ketauan. di sana tuh pokoknya HARUS SHALAT HARUS PUASA, NO QUESTIONS!! Ya udah, gw ikutan shalat. Ikutan ngikutin set gerakan tersebut. Udah gitu aja. Sd gw bikin gw nganggep Islam itu adalah agama yang keras, tanpa cinta kasih. Yang penting lu afal, yang penting lu gerak. Walk the walk, talk the talk, and you'll be guaranteed a place in the air-coned heaven. WTF???
Mana tengah-tengah studi gw di sd islam, bonyok pindah ke aussie. Di aussie gw masuk sekolah negeri yang isinya campuran macem-macem kultur asian, european, pasific islander, russian, and australian. Kebanyakan kresten. Yang gak kristen pun ikut acara-acaranya kristen. Dan guess what?? Acaranya seru-seru banget. Child-friendly. Ternyata orang-orang yang katanya kafir itu hangat juga. Hangat banget. Seru. Gw jadi afal christmas carols, suka easter eggs, ngirim-ngirim christmas cards. Senaaaang. Ada satu cerita, keluarga gw kan ga puasa, cuma anak pertama doang yang puasa. Di aussie ada restoran indonesia, kita sering ke situ. Pas bulan puasa juga. Terus gw yang polos nanya ke ibu,
"Bu ntar kalo mbak-mbaknya pada nyadar kita gak puasa gimana bu??"
"Gak papah, paling kita dikira kresten.."
Ok, lanjut makan.
Apa yang terjadi? Pas acara lebaranan, kita ketemu aja gitu sama dua atau tiga mbak-mbak restoran itu. Aihhhh malu banget, pada salaman lagi. Ah tidaaak, gini toh rasanya dipermalukan sama keluarga sendiri. Wanjeeeng. Ya udah, gak papa. Kita tetep makan di situ terus.
Nah, setelah kami balik ke indo lagi, gw balik ke sd itu lagi. Sampe sana, kemahiran beragama gw jauh di bawah anak-anaka lainnya. Shalat aja gak bisa. Gila aib banget, gw diomongin sama beberapa anak. Pas shalat, gw clingak-clinguk ngeliatin cara anak lain shalat. Baca Al Qur'n di kelas sama aja self humiliation. Gak bisaaaaa. Kacauuuuuuu. Gak pernah iqra. Orang tua dipanggil ke sekolah. Gw dipanggilin guru les ngaji. Akhirnya jadi bisa dikit. Jadi bisa lulus SD dan lanjut ke SMP negeri. No way banget gw SMP islam lagi.
Oke di SMP negeri, mulailah pemikiran-pemikiran goblok gw tentang Islam. Pas SMP, status keislaman gw: BENCI ISLAM.
to be continued some other time....