Kamis, 25 Juni 2009

Filosofi di Balik Sampo Sachet



pic courtesy of: http://behance.vo.llnwd.net/profiles/78466/projects/112566/784661217434734.jpg

Saya itu sering berganti sampo. Topik yang lumayan gak penting lah ya buat sebuah blog post, tapi saya menemukan salah satu makna hidup di balik kebiasaan itu. Setiap saya mencoba sampo, saya seenak jidat langsung beli yang botolan. Karena saya pikir gambar dan kata-kata di botolnya itu cukup menjanjikan untuk rambut saya. Saya yang selalu langsung percaya sama orang (dan botol sampo), langsung percaya dan membelinya. Tapi apa yang terjadi? Buah semangka tertusuk duri. Setelah pemakaian beberapa minggu, ketauan lah ternyata nggak cocok itu sampo, baik bikin kering, rontok, gak asik, gak cantik, dan kekecewaan-kekecewaan lainnya.

Lalu apa yang saya lakukan dengan sisa sampo yang masih ada. Saya paksa bibik saya pakai itu sampo. Cocok nggak cocok, abisin lah bik. Saya memberinya dengan sedikit bergaya seakan-akan saya memberi si bibik kemewahan dengan sampo itu, padahal saya cuma berusaha membuangnya. Non sense.

Lalu, abis itu saya pakai apa? Biasanya kejadian ini terjadi tengah minggu. Jadi musti nunggu weekendnya dulu untuk ikut mamak belanja beli sampo. Jadi selama sisa minggu, tiap hari saya suruh bibik ke warung membeli sampo sachet. Saya suruh beli 2 sachet yang mana per sachetnya dihargai 500 rupiah. Sehingga berbekal seribu perak, tiap hari sampai weekend si bibik jalan 120 langkah (angka ngasal) ke warung bu ellen atau pak ujang atau om yudho.

Lalu, akan saya pakailah kedua sachet itu secara bersamaan pada rambut saya yang panjang nanggung.

Oke. Terus poinnya apa??

Ternyata saya menemukan sebuah fakta bahwa saya adalah seorang penyombong kelas warung. Yaiks. Karena saya merasa mampu membeli sampo sachet dengan jumlah melebihi yang dibutuhkan, dan saya pakai semuanya secara bersamaan. Wong rambutnya cukup pake satu sachet, saya beli dua! Karena saya mampu! Karena saya kaya! Hahahaaa..

Ada sebuah rasa kepuasan dalam melakukan hal ini. Saya bisa menyombong bahwa saya mampu beli sesuatu berlebih-lebih. Walau yang tau cuma bibik saya (Dan sekarang lo yang baca juga jadi tau, karena gw pengumbar diri sejati). Saya merasa seperti istrinya david Beckham yang membeli tas manohara. Tas Hermes itu, disukai oleh Victoria Beckham, sehingga ia datang ke tokonya dan bilang, "Saya kaya, saya mau beli tas manohara ini. Tapi saya gak cukup cuma punya satu, saya mau beli semua warna di toko ini, karena saya mampu. Ikutin warna pelangi ya mas!"

Cool.. Kesombongan saya dengannya ternyata sama. Ternyata saya berada pada tingkat kemanusiaan yang sama dengan Victoria Beckham. Dia bisa menghambur-hamburkan beli tas Hermes dengan jumlah yang lebih dari kebutuhan, saya juga bisa beli sampo sachet berlebih-lebih.

Terus sekarang gimana dong? Apakah dengan nulis entry ini, gw jadi sadar bahwa pemakaian sampo berlebih gw itu mubazir? Apakah gw jadi sadar bahwa uang gopek yang kelebihan itu sebenernya bisa disumbangin ke anak jalanan? Apakah gw jadi sadar bahwa masih banyak anak Indonesia yang kecukupan konsumsi susu sapinya kurang? Apakah gw jadi sadar bahwa entry kali ini nyampahnya gak kira-kira?

Nggak, gw ga sadar.

2 komentar: